Disunting : SAFIY ISKANDAR J
Kiyai Haji Ahmad Dahlan ditanya oleh muridnya, apa itu AGAMA?
Dia hanya diam dan terus bermain biola.
Murid-muridnya diam dan menghayati irama. Mereka sangat menikmatinya bahkan ada yang sampai jadi langsung mengantuk.
Bagaimana perasaan kamu? Tanya Kiyai tentang alunan biolanya.
Menghibur, menyejukkan, menenangkan. Begitu jawab para muridnya.
Menghibur, menyejukkan, menenangkan. Begitu jawab para muridnya.
Lalu Kiyai Haji Ahmad Dahlan menyerahkan biolanya ke salah satu murid, dan memintanya untuk memainkan biola yang sama.
Murid tersebut tidak tahu apa-apa tentang biola.
Sret... krek... bret...ngoott...begitu bunyi biolanya.
Bagaimana persaaan kalian, sekarang? Tanya kiyai lagi tentang alunan biola.
Baru sentuhan pertama, seluruh yang mendengar langsung sakit telinganya.
Sakit, menusuk telinga, meresahkan.
Itulah agama. Jelas KH Ahmad Dahlan tentang biola sebagai perumpamaan agama.
Agama sama seperti permainan biola ini.
Jika yang menjalankan agama tahu bagaimana menerapkan agama, maka agama akan menyejukkan, menentramkan dan membahagiakan.
Sebaliknya jika agama dijalankan oleh orang yang tidak tahu bagaimana menerapkan agama, maka ajaran agama jadi meresahkan, mengganggu dan merusak.
Itu adalah satu babak dari filem Sang Pencerah yang penuh hikmah dan mengundang tawa.
Kini pertanyaannya, bagaimana agama kita berpengaruh pada masyarakat?
Apakah keimanan kita menentramkan atau justru meresahkan?
Apakah keimanan kita memberi sesuatu yang berbeda pada lingkungan atau tidak ada bezanya?
Apakah keimanan kita menentramkan atau justru meresahkan?
Apakah keimanan kita memberi sesuatu yang berbeda pada lingkungan atau tidak ada bezanya?
Sebenarnya apa yang disampaikan KH Ahmad Dahlan adalah konsep yang sekarang dikenal dengan "The man behind the gun"
Bukan masalah senjatanya, tapi SIAPA yang memakainya.
Betapa banyak orang yang merasa pantas gagal karena tidak punya kemudahan, padahal banyak orang lain dengan kemudahan minimun, namun lebih berjaya.
Jadi bukan masalah fasilitinya, tapi bagaimana kita memandang fasiliti tersebut dan fokus pada yang ada.Itu juga berlaku pada diri kita.
Diri kita adalah biola.
Apakah Anda menjadikan diri atau pribadi kita dengan kebaikan atau kehancuran.
Allah menjadikan diri kita biola, tapi kita yang memutuskan ingin memainkannya dengan baik atau merosaknya.
Itu pilihan Anda, tapi jelas akan dipertanggungjawabkan kelak.
NO EXCUSE sama ada anda bukan pelajar agama atau tidak, soalnya kita semua beragama Islam dan punya akal untuk memilih antara syurga dan neraka. Dan jalan ke syurga tak pernah sunyi daripada duri-duri yang sering menggugah pilihan.
No comments:
Post a Comment