P/S ; ni copy paste, nanti free aku baca hu (ayat aku ada la dua, tiga patah)
untuk UNGS 2050 : FIQH & ETHICS
ETIKA PERGAULAN DAN BATAS PERGAULAN DI ANTARA LELAKI DAN WANITA MENURUT ISLAM.
1.Menundukkan pandangan:
ALLAH memerintahkan kaum lelaki untuk menundukkan pandangannya, sebagaimana firman- NYA; Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an- Nuur: 30)
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada kaum wanita beriman, ALLAH berfirman; Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.
(an- Nuur: 31)
2.Menutup Aurat;
ALLAH berfirman dan jangan lah mereka mennampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka melabuhkan kain tudung ke dadanya. (an-Nuur: 31)
Juga Firman-NYA; Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri- isteri orang mukmin: Hendaklah mereka melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali, kerana itu mereka tidak
diganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (an-Nuur: 59). Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis. Dari Abu Daud Said al-Khudri r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seseorang lelaki memandang aurat lelaki, begitu juga dengan wanita jangan melihat aurat wanita.
3.Adanya pembatas antara lelaki dengan wanita;
Kalau ada sebuah keperluan terhadap kaum,yang berbeza jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-NYA; Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab. (al-Ahzaab: 53)
4.Tidak berdua-duaan Di Antara Lelaki Dan Perempuan;
Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seorang lelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita
kecuali bersama mahramnya. (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim)
Dari Jabir bin Samurah berkata; Rasulullah SAW bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duan dengan seorang wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya. (Hadis Riwayat Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang sahih)
5.Tidak Melunakkan Ucapan (Percakapan):
Seorang wanita dilarang melunakkan ucapannya ketika berbicara selain kepada suaminya. Firman ALLAH SWT; Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik. (al-Ahzaab: 32)
Berkata Imam Ibnu Kathir; Ini adalahbeberapa etika yang diperintahkan oleh ALLAH kepada para isteri Rasulullah SAW serta kepada para wanita mukminah lainnya, iaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam pengertian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Kathir 3/350)
6.Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan Jenis;
Dari Maqil bin Yasar r.a. berkata; Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita yang tidak halal baginnya. (Hadis Hasan Riwayat Thabrani dalam Mujam Kabir)
Berkata Syaikh al-Abani Rahimahullah; Dalam hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang- orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (Ash-Shohihah 1/448) Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain- lainnya. Dari Aishah berkata; Demi ALLAH, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat. (Hadis Riwayat Bukhari)
Inilah sebahagian etika pergaulan lelaki dan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebahagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW; Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya.
Zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan- angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya. (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim & Abu Daud) Padahal ALLAH SWT telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang boleh mendekati kepada perbuatan zina.
Sebagaimana Firman- NYA; Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.
(al-Isra: 32)
(al-Isra: 32)
Hukum Bercouple
SETELAH memerhatikan ayat dan hadis tadi, maka tidak diragukan lagi bahawa bercouple itu haram, kerana beberapa sebab berikut:
1.Orang yang bercouple tidak mungkin menundukkan pandangannya terhadap
kekasihnya.
2.Orang yang bercouple tidak akan boleh menjaga hijab.
3.Orang yang bercouple biasanya sering berdua-duaan dengan pasangan
kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah.
4.Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.
5.Bercouple identik dengan saling menyentuh antara lelaki dan wanita,
meskipun itu hanya berjabat tangan
kekasihnya.
2.Orang yang bercouple tidak akan boleh menjaga hijab.
3.Orang yang bercouple biasanya sering berdua-duaan dengan pasangan
kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah.
4.Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.
5.Bercouple identik dengan saling menyentuh antara lelaki dan wanita,
meskipun itu hanya berjabat tangan
6.Orang yang bercouple, boleh dipastikan selalu membayangkan orang yang
dicintainya Dalam kamus bercouple, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkannya, lalu apatah lagi
kesemuanya atau yang lain-lainnya lagi?
dicintainya Dalam kamus bercouple, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkannya, lalu apatah lagi
kesemuanya atau yang lain-lainnya lagi?
-The wifes rights - the Husbands obligations.
(1) Maintenance
The husband is responsible for the wifes maintenance. This right is established by authority of the Qur'an and the sunnah. It is inconsequen tial whether the wife is a Muslim , non-Muslim, rich, poor, healthy or sick. A component of his role as "qawam" (leader) is to bear the financial responsibility of the family in a generous way so that his wife may be assured security and thus perform her role devotedly.
The wifes maintenance entails her right to lodging, clothing, food and general care, like medication, hospital bills etc. He must lodge her where he resides himself according to his means. The wifes lodge must be adequate so as to ensure her privacy, comfort and independence.
If a wife has been used to a maid or is unable to attend to her household duties, it is the husbands duty to provide her with a maid if he can afford to do so. The prophet is reported to have said: The best Muslim is one who is the best husband.
(2) "Mahr "
The wife is entitled to a marriage gift that is her own. This may be prompt or deferred depending on the agreement between the parties. A marriage is not valid without mahr. It does not have to be money or gold. It can be non-material like teaching her to read the Qur'an. " Mahr" is a gift from the groom to the bride.
This is the Islamic law, unlike some cultures whereby the brides parents pay the future husband to marry the daughter. This practice degrades women and is contrary to the spirit of Islam. There is no specification in the Qur'an as to what or how much the Mahr has to be. It depends on the parties involved.
(3) Non-material rights.
A husband is commanded by the law of Allah to treat his wife with equity, respect her feelings and show kindness and consideration, especially if he has another wife. The prophet last sermon stresses kindness to women.
The wife obligations - the Husbands rights.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
One of the main duties of the wife is to contribute to the success and blissfulness of the marriage. She must be attentive to the comfort and wellbeing of her husband.
The Qur'anic ayah which illustrates this point is:
"Our lord, grant us wives and offspring who will be the apples of our eyes and guide us to be models for the righteous"
The wife must be faithful, trustworthy and honest she must not deceive her husband by deliberately avoiding conceiving. She must not allow any other person to have access to that which is exclusively the husband right i.e. sexual intimacy.
She must not receive or entertain strange males in the house without his knowledge and consent. She should not be alone with a strange male. She should not accept gifts from other men without his approval. This is meant to avoid jealousy, suspicion and gossip. The husband possessions are her trust. She may not dispose of his belongings without his permission.
A wife should make herself sexually attractive to her husband and be responsive to his advances. The wife must not refuse her husband sexually as this can lead to marital problems and worse still - tempt the man to adultery. The husband of course should take into account the wifes health and general consideration should be given.
Obedience.
^^^^^^^^^
The purpose of obedience in the relationship is to keep the family unit running as smoothly as possible. The man has been given the right to be obeyed because he is the leader and not because he is superior. If a leader is not obeyed , his leadership will become invalid -Imagine a king or a teacher or a parent without the necessary authority which has been entrusted to them.
Obedience does not mean blind obedience. It is subject to conditions:
(a) It is required only if what is asked from the wife is within the permissible categories of action.
(b) It must be maintained only with regard to matters that fall under the husband rights.
NIKAH-MENYINGKAP TABIR FATAMORGANA
Pernikahan akan menyingkap tabir rahsia bahawa isteri yang kau nikahi tidak seindah yang diimpikan.
Isterimu bukanlah..semulia Khatijah, setaqwa Aisyah, setabah Fatimah, secantik Zulaikha. Justeru isterimu adalah isteri akhir zaman, yang InsyaAllah akan melahirkan anak soleh dari rahimnya.
Pernikahan mengajarkan kita berkewajipan yang sama;
Isteri menjadi tanah, dan Suami menjadi penaungnya.
Suami menjadi sebuah pondok, dan Isteri menjadi penghuninya.
Saat Isteri menjadi madu, kamu teguk kesegarannya.
Di kala Suami menjadi raja, kau nikmati anggur singgahsananya.
Ketika Isteri menjadi racun, Suami menjadi penawar bisanya.
Pabila Suami menjadi bisa, Isteri bisa jadi penawarnya.
Pernikahan akan menginsafkan kita akan perlunya Iman dan Taqwa kerana memiliki suami tidak se-arif Abu Bakar, seberani Umar Bin Khattab, se-kaya Ustman Bin Affan dan segagah Ali Bin Ab Tholib.
Isteri menjadi tanah, dan Suami menjadi penaungnya.
Suami menjadi sebuah pondok, dan Isteri menjadi penghuninya.
Saat Isteri menjadi madu, kamu teguk kesegarannya.
Di kala Suami menjadi raja, kau nikmati anggur singgahsananya.
Ketika Isteri menjadi racun, Suami menjadi penawar bisanya.
Pabila Suami menjadi bisa, Isteri bisa jadi penawarnya.
Pernikahan akan menginsafkan kita akan perlunya Iman dan Taqwa kerana memiliki suami tidak se-arif Abu Bakar, seberani Umar Bin Khattab, se-kaya Ustman Bin Affan dan segagah Ali Bin Ab Tholib.
Suami mu adalah..suami akhir zaman yang InsyaAllah, Membimbingmu menempuh jalan yang diredhai Allah.
Namun senantiasalah berikhtiar semoga menjadi suami/isteri yang soleh dan solehah, agar keluargamu akan menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warrohmah.
Nota ringkas: Wahai wanita solehah, jangan risau akan jodohmu kerana muslimin yang bijaksana takkan terpaut pada wanita hanya kepada kecantikan, lirikan senyuman, pada bicara manja dan menggoda atau pada pujuk rayu seorang wanita yang meruntuhkan imannya. Telah tercatat seungkap nama lelaki di Luh Mahfuz untukmu. Cuma peribadinya ditentukan oleh sejauh mana ketinggian peribadimu. Jika kau tetap di atas jalan yang di redhai-Nya, InsyaAllah si dia turut di jalan yang sama.
5 SEBAB MENJADIKAN BER"COUPLE"� HARAM
Pada asasnya, hukum bercinta-kasih, berpasangan( couple) atau
seumpamanya adalah harus. Akan tetapi terdapat beberapa
perkara/tindakan yang boleh menyebabkannya menjadi HARAM. Antaranya :
seumpamanya adalah harus. Akan tetapi terdapat beberapa
perkara/tindakan yang boleh menyebabkannya menjadi HARAM. Antaranya :
PERTAMA: TIDAK MEMPUNYAI NIAT YANG BAIK ATAU SEBALIKNYA
Sesebuah perhubungan ˜istimewa" antara seorang lelaki dan wanita
seharusnya didasari dengan niat yang baik seperti bertujuan untuk
berkahwin. Justeru sebarang perhubungan yang tidak bertujuan seperti
tersebut adalah tidak harus seperti bercouple untuk berhibur,
bersuka-suka dan sebagainya.
KEDUA: TIDAK MEMATUHI (MELAMPAUI) SYARIAT AGAMA
Lumrah bercouple seakan tidak dapat lari dari aktiviti seperti ber"dating"�, ber"shoping" dan sebagainya hatta ada yang sampai ke peringkat "membonceng". Tidak kurang juga (tanpa segan silu) menggunakan istilah-istilah yang kononnya menunjukkan sikap "caring" seperti memanggil darling kepada pasangannya.
Paling tidak, pasti di dalam pertemuan(dating) akan berlaku pandangan mata yang tidak harus, perbicaraan yang tidak wajar dan seumpamanya. Semua perlakuan ini
adalah bercanggah dengan ajaran Islam yang mengharamkan perhubungan
bebas di antara lelaki dan perempuan.
adalah bercanggah dengan ajaran Islam yang mengharamkan perhubungan
bebas di antara lelaki dan perempuan.
Yang paling penting, apabila Syariat Islam mengharamkan sesuatu perkara/perbuatan, maka wasilah atau tindakan yang menuju kepada perkara yang diharamkan tersebut juga turut diharamkan.
Kaedah Fiqh ada menyebutkan : sesuatu yang membawa kepada yang haram, maka ia juga menjadi haram�. Justeru berdasarkan kaedah ini, maka bercouple yang membawa kepada perlanggaran hukum syariat juga adalah haram.
KETIGA: MENJATUHKAN MARUAH (PERIBADI) SEORANG WANITA
Apabila pasangan yang bercouple berdating, maka peribadi seorang wanita
muslimah akan dipersoalkan. Khalayak tidak akan berbicara tentang si
lelaki yang bercouple tersebut, tetapi si perempuan.
Masyarakat akan bertanya bagaimana begitu mudah si perempuan tersebut membiarkan dirinya diusung(maaf jika agak keterlaluan) ke sana-sini atau setidak-tidaknya umum akan menganggap bahawa perempuan tersebut telah dimiliki. Kesan buruk yang mungkin dihadapi ialah apabila berlaku perpisahan antara pasangan tersebut. Masyarakat akan mula membuat pelbagai tanggapan negatif terhadap si perempuan tersebut.
Prasangka-prasangka negatif akan direka dan dihebahkan. Akhirnya
berlakulah tohmahan-tohmohan yang menjatuhkan maruah dan kehormatan
seorang wanita. Ingatlah bahawa Islam amat memprihatinkan penjagaan
maruah seorang wanita.
Di atas dasar itulah adanya hukum Qazaf dan
kerana tujuan tersebut jugalah Islam mengharamkan perhubungan yang di
luar batasan. Sebabnya adalah kerana Islam memelihara kehormatan seorang wanita.
kerana tujuan tersebut jugalah Islam mengharamkan perhubungan yang di
luar batasan. Sebabnya adalah kerana Islam memelihara kehormatan seorang wanita.
KEEMPAT: MEMBAZIRKAN WANG KEPADA PERKARA YANG TIDAK WAJAR
Di dalam budaya bercouple, biasanya pasangan lelaki akan banyak
menghabis duit pinjaman PTPTN, JPA, yayasan negeri (bagi mahasiswa IPT)
atau duit pemberian ibubapa untuk memenuhi kehendak pasangan wanitanya.
Ajak saja dinner, lunch, breakfeast atau bershoping pasti si lelaki
yang perlu mengeluarkan duit poketnya. Terdapat juga keadaan di mana si
perempuan yang berbelanja si lelaki. Itu belum dikira dengan pembeliaan
kad top-up handset yang out of control. Hanya kerana call untuk tanya
khabar, dah makan ke belum, ada yang sanggup mentop up handset mereka
beberapa kali dalam seminggu.
Cuba bayangkan jumlah wang perlu dibazirkan hanya untuk perkara yang sangat remeh dan tidak perlu. Paling menyedihkan, wang tersebut adalah pemberian keluarga yang seharusnya digunakan bagi tujuan pengajian.
Begitu juga wang pinjaman PTPTN, ia adalah hutang yang perlu dibayar selepas tamat pengajian. Justeru, penggunaan kedua-dua jenis wang ini kepada perkara yang tidak wajar adalah tidak harus dan ditegah oleh syarak. Perbuatan membazir dan menyalahgunakan harta juga adalah amalan syaitan.(Rujuk Al-Israa ayat 27)
KELIMA: MEMBUANG MASA KEPADA PERKARA YANG TIDAK SEWAJARNYA
Seperkara yang wajar diprihatinkan di sini ialah penggunaan waktu kepada perkara yangtidak bermanfaat. Lebih malang lagi, masa yang amat terhad sebagai seorang mahasiswa telah diisi dengan perbuatan-perbuatan yang ditegah oleh Allah.
Bukankah berdating, berbual telefon secara marathon dan lain-lain aktiviti rutin bercouple merupakan perbuatan yang menyimpang dari anjuran agama. Justeru setiap saat dan minit yang digunakan bagi tujuan tersebut akan dipersoal dan diperbicarakan di hadapan Allah.
Perlu diingat bahawa Islam bukan mengharamkan secara total perkara yang dinyatakan di atas. Islam tidak menghalang perbuatan tersebut, tetapi meletakkan beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi.
Sekiranya kita gagal mengikut syarat-syarat tersebut, maka status perbuatan tersebut menjadi HARAM serta menjauhkan diri pelaku daripada kasih sayang dan cinta Allah. (Rujuk kitab al-Halal wal Haram Fil Islam, Dr. Yusuf Al-Qardhawi)
Hal Mencintai
Cinta adalah anugerah Tuhan yang paling istimewa kepada setiap manusia. Kita semua mempunyai keupayaan untuk mencintai, dicintai dan bercinta. Siapa yang kita cintai dan bagaimana kita mencintai, ini adalah bergantung kepada beberapa faktor. Sejauh mana kita mencintai adalah terserah kepada kita untuk menentukannya.
Tetapi pada amnya cara untuk mencintai itu ada empat cara.
Pertama, Mencintai Sebab/Kerana: Cinta ini menekankan mengapa seseorang itu mencintai seseorang.
"Saya cinta padamu sebab kau baik; Saya cinta padamu kerana mukamu yang ayuh; Saya cinta kepadamu sebab kau cantik." Jadi, cinta jenis ini bergantung kepada "sebab atau kerana" sebagai alasan untuk mencintai. Ini bererti orang yang mencintai cara ini tidak dapat mencintai sekiranya tidak ada yang menarik atau berguna yang menyebabkannya untuk mencintai.
"Sebab" itu mesti ada. Kalau tidak ada "Sebab" maka cinta juga tidak ada. Cuba kita lihat diri kita sendiri, bukankan kita sering mencintai seperti ini? Sedarkan kita bahawa mencintai cara ini adalah tidak baik? Kerana cinta jenis ini meletakkan syarat mengapa ia mencintai.
Sebab itu, kita harus berusaha supaya dapat mencintai sesama insan tanpa sebab atau syarat. Kita mencintai seseorang seperti apa yang ada pada dirinya. Ini bererti kita mencintai tanpa dipengaruhi oleh apa-apa sebab dan kita tidak mengenakan apa syarat atau sebab untuk mencintai seseorang. Kerana cinta tanpa syarat adalah cinta yang iklas, murni dan sempurna.
Kedua, Mencintai Kalau: Cinta jenis ini mengutamakan apa yang saya dapat dulu.
Apa keuntungan atau kebaikan yang saya dapat dahulu sebelum mencintai orang berkenaan. Ini bererti ia membalas cinta seseorang berdasarkan kepada kepentingan diri sendiri. Inilah yang dinamakan cinta yang paling teruk! Cinta ini bukan saja mementingkan syarat, tetapi ianya jelas sekali mementingkan diri sendiri.
Orang yang mengamalkan cinta jenis ini memang tamak sekali. Kalau syarat itu tidak diikut maka cintanya tidak ada. "Bah! Kalau kau benar-benar cinta padamu, benarkanlah saya menciummu!; Kalau kau bantu saya, barulah saya sayang padamu; kalau kau baik dengan saya, maka saya pun akan berlaku baik kepadamu." Jadi, apa yang jelas cinta jenis ini ialah syarat harus dipenuhi dahulu barulah ada cinta.
Marilah kita tanya pada diri sendiri. Adakah kita selalu mencintai cari ini. Kalau jawapannya ialah YA, maka kita harus keluar daripada kebiasaan mencintai cara ini. Kerana cinta jenis ini tidak baik. Jestru itu, kita mesti belajar mencintai tanpa meletakkan apa-apa syarat dahulu.
Jadi, janganlah kita amalkan cinta jenis ini. Kerana cinta jenis bukan saja tidak adil dan berat sebelah tetapi ianya juga jelas menunjukkan "ketamakan" diri kita sendiri
. Ketiga, Mencintai Terpaksa: Cinta jenis ini biasanya diamalkan kerana termakan budi kepada orang berkenaan.
"Saya terpaksa menerimanya dan setuju berkahwin dengannya kerana dialah yang membantu keluarga saya selama ini; Saya terpaksa menerima cintanya kerana dialah yang membayar segala perbelanjaan saya semasa bersekolah dulu. Saya terpaksa mengikut kehendaknya kerana dia adalah boss saya; Saya terpaksa bersikap baik kepadanya kerana dia seorang YB
." Apa yang jelas dengan mencintai cara inilah, cinta jenis ini tidak jujur dan tidak iklas. Pendek kata, cinta ini tidak sempurna. Mari kita bertanya kepada diri sendiri, Bukankah kita sering juga mengamalkan cinta cara ini?
Sekiranya, kita selalu mencintai mengikut cara ini, marilah berusaha agar kita dapat mencintai dengan iklas dan jujur dan bukan kerana terpaksa mencinta. tetapi, sungguh-sungguh mencintai tanpa terikat kepada apaapa syarat atau dipengaruhi oleh sesuatu.
Keempat, Mencintai Walaupun/Meskipun: Cinta jenis ini adalah cinta yang murni dan sempurna.
Kerana pengamalnya tidak meletakkan apa-apa syarat didalam hal mencintai. Dan cintanya juga tidak bergantung kepada faktor "sebab atau kerana." Kerana cintanya adalah iklas dan jujur.
Ia tidak mengharapkan apa-apa. Ia tetap mencintai meskipun orang yang dia cintai itu mempunyai kelemahan, kekurangan dan kesalahan. Cintanya tidak dipengaruhi oleh apa-apa faktor atau sebab. Ia tetap mencintai walaupun ada yang terjadi. " Cintaku padamu tetap seperti dulu walaupun kau telah berlaku curang kepadaku;
Aku tetap sayang kepadamy meskiun kau telah mungkir janji; Cintaku kepadamu tidak bergantung kepada kecantikan atau kekayaanmu." Aku cinta padamu walaupun kau tidak ada apa-apa. Aku mencintaimu seperti seadanya dirimu." Sesungguhnya, inilah yang dikatakan mencintai tanpa batas dan tanpa syarat.
Inilah jenis cinta yang harus kita pejuangkan didalam hidup kita setiap hari. Marila kita berusaha agar kita sentiasa dapat mencintai seperti ini kepada sesama dan lebih-lebih lagi kepada Tuhan yang Maha Esa.
Dari jenis cinta yang disebutkan tadi, marilah tanya diri kita masing-masing dimanakah kedudukan kita. Dimanakah kecenderungan hati kita? Dimanakan letaknya cinta kita kepada sesama manusia dan kepada Tuhan yang Maha Esa. Apakah kita sering sekali mencintai berdasarkan kepada "Sebab atau Kalau atau Walaupun."
Dari jenis cinta yang disebutkan tadi, marilah tanya diri kita masing-masing dimanakah kedudukan kita. Dimanakah kecenderungan hati kita? Dimanakan letaknya cinta kita kepada sesama manusia dan kepada Tuhan yang Maha Esa. Apakah kita sering sekali mencintai berdasarkan kepada "Sebab atau Kalau atau Walaupun."
Jawapannya terletak ditangan kita sendiri. Sekiranya, kita terlalu mengamalkan cinta jenis "sebab dan kalau" maka, kita harus berusaha dengan gigih untuk memperjuangkan cinta "Walaupun" agar ianya menjadi amalan kita setiap hari. asih Kita perlu berusaha dan memperjuangakan cinta yang murni dan suci ini. Semoga kita tidak mudah berputus asa didalam memperjuangkan cinta ini.
Saudara dan saudari, marilah menjauhkan cinta yang bersyarat iaitu cinta jenis"Sebab dan Kalau." Marilah kita belajar mencintai seperti Tuhan, Pencipta kita. Kerana DIA menurunkan hujan dan menyinarkan matahari kepada semua orang termasuklah kepada orang-orang yang jahat dan lalim.
Sesungguhnya, cinta yang sempurna ini harus kita perjuangkan didalam hidup kita agar ianya menjadi pegangan dan amalan kita setipa hari dan sepanjang hidup kita. Amin.
Mencintai bukan bererti memiliki. Bukankan mencintai itu bererti bahagia melihat orang yang dicintai bahagia?
TIPS MENGATASI PUTUS CINTA-CLASH SETELAH MENYEDARI SI DIA BUKAN INSAN YANG LAYAK MENJADI PEMBIMBING MENUJU REDHA ALLAH:
1. Kembali kepada-Nya – Banyakkan beribadah termasuk melakukan amalan sunat. Luangkanlah lebih masa dengan-Nya.
2. Sentiasa ingat jodoh itu ketentuan Allah - anggap semua yang berlaku adalah ujian daripada Allah dan ada hikmah disebaliknya. Sesungguhnya Allah tidak menurunkan ujian jika hamba-Nya tidak mampu untuk menanggungnya. Bersabarlah.
3. Meminta nasihat ibu bapa atau orang terdekat – Ibu bapa adalah yang terbaik dalam memberikan nasihat kerana sudah merasa asam garam kehidupan dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika berasa malu atau takut untuk meminta nasihat daripada ibu bapa, sekurang-kurangnya berkongsilah masalah anda dengan orang yang terdekat dan rapat seperti kawan baik. Jangan pendamkan di dalam hati, nanti semakin merana diri.
4. Buang semua tentang si dia – Jika anda tidak sanggup membuang kenangan anda berdua, letaklah jauh dari sudut penglihatan anda supaya anda tidak berasa sedih dan ingin kembali dengannya. Buang nombor si dia dan segala mesej yang terdapat dalam telefon bimbit anda.
5. Sibukkan diri – Lakukan apa sahaja kerja yang baik dalam kehidupan seharian anda supaya anda tidak terlalu memikirkannya. Sekiranya ada aktiviti, libatkan diri. Dengan itu boleh mengurangkan kesedihan yang melanda.
6. Muhasabah diri – Jangan ikutkan perasaan, terimalah hakikat bahawa dirinya bukan untuk anda. Ada yang lebih baik.
7. Berkawan dengan ramai orang – Janganlah kerana putus cinta anda tidak mahu bergaul. Namun, kawal pergaulan anda sebagai seorang muslimah. Menambah kenalan adalah baik dalam mengukuhkan ukhwah. Di samping itu anda akan berasa kesedihan putus cinta itu akan hilang sedikit demi sedikit.
Dengan perkongsian ini, diharapkan serba sedikit dapat membantu muslimah sekalian yang mungkin menghadapi masalah putus cinta. Sekali lagi diingatkan, bercinta tanpa ikatan yang sah adalah HARAM. Kesannya adalah seperti ini, PUTUS CINTA. Akhirnya diri sendiri yang merana.
Ayuh muslimah! Bangkitlah dengan kekuatan dirimu. Cinta manusia bukanlah segalanya, tetapi cinta kepada Allah cinta yang hakiki. Sampai suatu ketika, dengan adanya cinta terhadap-Nya, semoga Dia akan menjodohkanmu dengan lelaki yang mencintaimu untuk mendapat keredhaan-Nya.
“A girl and a guy can be just friends, but at one point or another they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.”
Sulamkanlah cinta itu dengan ikatan yang SAH. Wallahua'lam.
Istikharah Petunjuk Arah
SAIFULISLAM.COM
“Ustaz, saya dan tunang saya sudah hampir ke tarikh pernikahan kami. Tetapi tunang saya telah secara mendadak memutuskan pertunangan kami. Beliau bermimpi melihat seorang perempuan lain dan setelah beristikharah, beliau yakin perempuan itu adalah pilihan sebenarnya kerana ia muncul dengan petunjuk Allah. Bagaimana pandangan ustaz? Saya dan keluarga saya serta keluarga tunang saya sangat terkilan. Apakah benar saya sudah dikeluarkan daripada petunjuk Allah? Di mana silap saya, ustaz?”
Sepucuk emel dihantar kepada saya.
Beristighfar dan mengurut dada.
Percaya atau tidak, gejala ini semakin menjadi-jadi.
Malah di kalangan pelajar universiti, Istikharah semakin popular di dalam trend yang tersendiri. Ia diamalkan bagi ‘memaksa’ Allah membuat pilihan untuk mereka. Berbekalkan kejadian persekitaran atau mimpi yang disangka petunjuk, kadang-kadang ‘pilihan Allah’ itu adalah tunang orang, suami orang, malah ada juga isteri orang. Bertindak atas nama ‘petunjuk Allah’, tercetus permusuhan sesama anak Adam.
Apakah Allah, atau Syaitan yang memberikan ‘petunjuk’ penuh mudarat dan zalim itu?
MEMBELAKANGKAN ILMU
Penyakit besar yang melanda anak-anak muda terbabit ialah beribadah tanpa ilmu. Mereka melaksanakan Solat Istikharah berdasarkan saranan rakan-rakan yang juga melakukannya atas saranan kawan-kawan yang lain. Berapa ramaikah yang membuka kitab Fiqh atau belajar mengenai Solat itu dan ibadah yang lain melalui para ustaz dan alim ulama’?
Keadaan ini menjadi lebih bermasalah apabila ada pula agamawan yang mengesyorkan panduan-panduan yang tidak berdasarkan keterangan al-Quran dan al-Sunnah malah diajar pula kaifiyat yang sangat membuka ruang manipulasi Syaitan dalam mengaburi pertimbangan anak Adam.
Mengira huruf tertentu di dalam Surah, menyelak secara rawak mushaf dan mencari petunjuk di muka surat yang terbuka, juga paling banyak meniti di minda ialah menanti mimpi yang menjawab permintaan.
Ia mengingatkan saya kepada pandangan Sheikh Saleem bin Eid al-Hilali di dalam kitab Bahjah al-Nadzireen syarah kepada Riyadh al-Sholiheen:
“Ada sesetengah orang berpendapat, “sesudah mengerjakan solat serta Doa Istikharah, akan muncullah nanti petunjuk dalam mimpinya, maka dia akan memilih sebagaimana yang ditunjukkan oleh mimpinya itu” Justeru ada sesetengah orang berwudhu’ dan kemudian melakukan Solat serta Doa Istikharah dan terus tidur (dengan meletakkan harapan petunjuk datang melalui mimpi), malah ada juga mereka yang sengaja memakai pakaian berwarna putih kerana mengharapkan mimpi yang baik. Semua ini hakikatnya adalah prasangka manusia yang tidak berasas”
Menjadi satu keperluan yang sangat penting untuk kita kembali kepada maksud asal Solat Istikharah.
Istikharah itu bermaksud meminta bantuan daripada Allah untuk seseorang itu memilih di antara beberapa kemungkinan yang diharuskan oleh Syara’. Ada pun pilihan yang berada antara manfaat dan mudarat, apatah lagi Halal dan Haram hatta Makruh, maka tidak harus untuk Istikharah dilakukan kerana tindakan yang sepatutnya diambil sangat jelas iaitu pada meninggal dan menghindarkan pilihan yang tidak baik itu.
Sabda Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam :
Hadith yang dikeluarkan oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya dengan sanadnya daripada Jabir radhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata
Daripada Nabi sallallaahu ‘alayhi wa sallam Baginda bersabda:
Apabila sesiapa daripada kalangan kamu diberatkan oleh sesuatu maka hendaklah dia Rukuk dengan dua Rukuk (mengerjakan Solat dua rakaat) yang selain daripada Solat yang Fardhu
(yakni mengerjakan Solat dua Rakaat dengan niat Istikharah).
(yakni mengerjakan Solat dua Rakaat dengan niat Istikharah).
Kemudian hendaklah dia berdoa: Ya Allah, aku beristikharahkan Engkau dengan ilmu-Mu dan aku juga memohon ketetapan dengan ketetapan yang bersandarkan kurniaan-Mu yang Maha Agung. Engkaulah yang Maha Menetapkan sedangkan aku tidak mampu untuk menetapkan. Engkau Maha Mengetahui dan aku pula tidak mengetahui. Engkaulah yang Maha Mengetahui akan perkara-perkara yang tersembunyi. Ya Allah, jika pada ilmu-Mu sesungguhnya urusan ini – harus disebut hajat tersebut atau cukup sekadar meniatkannya kerana Allah Maha Mengetahui akan hajat itu – adalah baik untukku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan datang), maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku. Kemudian berkatilah bagiku di dalam pilihan ini. Dan andaikata pada ilmu-Mu sesungguhnya hal ini adalah buruk bagiku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan akan datang), maka hindarkanlah ia daripadaku dan hindarkanlah aku daripadanya. Tetapkanlah bagiku kebaikan dan jadikanlah aku redha dengannya.
ANTARA ISTIKHARAH DAN ISTISYARAH
Istikharah itu mempunyai gandingan yang memberi tambahan kemudahan. Ia dikenali sebagai Istisyarah.
Istisyarah ini bermaksud meminta pendapat mereka yang boleh dipercayai untuk membantu seseorang itu membuat keputusan.
Sheikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah pernah berkata:
“Tidak akan menyesal seorang yang beristikharah kepada al-Khaliq (Allah) serta bermesyuarat dengan para Makhluq, serta tetap pendirian dalam keputusannya”
Biar pun para Ulama berselisih pendapat tentang mana yang patut didahulukan antara Istisyarah dan Istikharah, ia tidak menjejaskan bahagian yang perlu dimainkan oleh seorang manusia dalam proses dirinya membuat keputusan. Sebelum sampai kepada pertimbangan memilih antara dua kebaikan, seseorang yang berhajat itu mestilah mempunyai asas dalam penilaiannya agar pilihan yang ada di depan matanya adalah antara dua perkara yang harus serta sama baik. Sudah tentu, hal ini juga memerlukan dirinya untuk mengambil bahagian dengan berusaha.
Setelah beristikharah, namun hati masih berada di dalam ketidak pastian, harus baginya untuk mengulangi Solat dan Doa Istikharah itu hingga beroleh ketetapan hati dalam membuat keputusan. Di samping itu juga, dia dianjurkan beristisyarah, yakni meminta pendapat individu-individu yang dipercayai integriti dan kemahirannya dalam urusan tersebut, agar keputusan boleh dibuat.
Titik pentingnya ialah, keputusan hendaklah kita yang berhajat itu melakukannya dan bukan menyerahkan kepada Allah untuk membuat keputusan itu dan menampakkanya melalui petanda-petanda yang dicari. Di sinilah ruang untuk fitnah berlaku apabila dalam suasana hidup kita yang dibelenggu oleh pelbagai maksiat serta Iman yang teruji, kita membuka suatu ruang kosong untuk dicelah oleh tipu helah Syaitan.
Tambahan pula dalam keadaan jiwa anak muda yang selalu lemah untuk menolak kehendak diri dan sering terdorong mengikut kemahuan. Jiwanya tidak bulat meminta kepada Allah, sebaliknya bermain helah untuk mengharapkan Allah menyokong kecenderungan dirinya sendiri.
Berhentilah mencari mimpi.
Berhentilah menunggu petanda.
Beristikharah memanggil kebersamaan Allah dalam keputusan yang kita buat. Kita yang membuat keputusan itu, dengan keyakinan hasil Istikharah, bahawa keputusan yang kita buat itu adalah dengan kebersamaan Allah. Jika di kemudian hari, pada pilihan yang dibuat itu, datang mehnah yang menguji kehidupan, kita tidak akan berfikiran negatif malah berusaha untuk mencari sisi-sisi positif pada apa yang berlaku kerana keputusan yang dibuat dahulu itu adalah dengan kelengkapan Syariatullah (Istikharah) serta Sunnatullah (Istisyarah – Ikhtiar Usaha).
Pertimbangkanlah… seandainya pilihan yang disangkakan petunjuk daripada Allah itu mencetuskan mudarat, permusuhan, meninggalkan yang afdhal dan mengambil yang mafdhul… berhati-hatilah.
Ia mungkin mainan Syaitan.
“Sebahagian (daripada umat manusia) diberi hidayah petunjuk oleh Allah (dengan diberi taufiq untuk beriman dan beramal soleh); dan sebahagian lagi (yang ingkar) berhaklah mereka ditimpa kesesatan (dengan pilihan mereka sendiri), kerana sesungguhnya mereka telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin (yang ditaati) selain Allah. serta mereka pula menyangka, bahawa mereka berada di dalam petunjuk hidayah”
[Al-Aa'raaf 7: 30]
[Al-Aa'raaf 7: 30]
KESIMPULAN
1. Hindarkan diri daripada kesukaran menetapkan pendirian dalam kehidupan.
Was-was adalah permainan Syaitan dan penyakit jiwa yang mengundang bahaya.
2. Dalam hal-hal yang tiada keraguan dalam membuat pilihan keputusan, ia tidak berhajatkankepada Istikharah.
3. Ketika berdepan dengan pilihan yang sukar ditentukan, gunakan pertimbangan diri untuk
melihat buruk baiknya.
4. Jika jelas mudarat atau sudah ditentukan Haram hukumnya, maka tidak harus beristikharah.
5. Pada perkara yang sukar untuk dibuat keputusan, beristikharahlah kepada Allah mengikut kaifiyat Solat Istikharah dan Doa yang Ma’thur daripada Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam.
6. Istikharah boleh diulang beberapa kali hingga beroleh ketetapan hati untuk membuat keputusan.
7. Di samping itu juga beristisyarahlah dengan meminta pandangan pihak yang boleh dipercayai kewibawaannya.
8. Petunjuk daripada Allah ialah kemampuan hati untuk tetap pendirian membuat keputusan.
9. Hindarilah perbuatan menunggu mimpi atau petanda berbentuk isyarat kerana ia sangat terbuka kepada belitan Iblis.
10. Jauhi Bid’ah dan Syirik.
11. Setelah keputusan dibuat, bertawakkallah kepada Allah dan tenang dengan keputusan itu.
12. Seandainya timbul cabaran atau muncul sisi kekurangan pada pilihan yang dipilih, tiada fikiran negatif muncul kerana yakin adanya hikmah dan kebaikan daripada Allah.
13. Istikharah terbuka kepada apa sahaja urusan kehidupan yang berada di dalam ruang lingkup
keharusan Syara’ dan salah jika hanya dilihat sebagai mekanisme jodoh.
14. Rujuklah kitab-kitab Fiqh serta panduan Sunnah dalam urusan Istikharah serta ibadah-ibadah yang lain.
15. Melakukan ibadah dengan hanya berpandukan hearsay adalah pintu kebinasaan dalam beragama.
Was-was adalah permainan Syaitan dan penyakit jiwa yang mengundang bahaya.
2. Dalam hal-hal yang tiada keraguan dalam membuat pilihan keputusan, ia tidak berhajatkankepada Istikharah.
3. Ketika berdepan dengan pilihan yang sukar ditentukan, gunakan pertimbangan diri untuk
melihat buruk baiknya.
4. Jika jelas mudarat atau sudah ditentukan Haram hukumnya, maka tidak harus beristikharah.
5. Pada perkara yang sukar untuk dibuat keputusan, beristikharahlah kepada Allah mengikut kaifiyat Solat Istikharah dan Doa yang Ma’thur daripada Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam.
6. Istikharah boleh diulang beberapa kali hingga beroleh ketetapan hati untuk membuat keputusan.
7. Di samping itu juga beristisyarahlah dengan meminta pandangan pihak yang boleh dipercayai kewibawaannya.
8. Petunjuk daripada Allah ialah kemampuan hati untuk tetap pendirian membuat keputusan.
9. Hindarilah perbuatan menunggu mimpi atau petanda berbentuk isyarat kerana ia sangat terbuka kepada belitan Iblis.
10. Jauhi Bid’ah dan Syirik.
11. Setelah keputusan dibuat, bertawakkallah kepada Allah dan tenang dengan keputusan itu.
12. Seandainya timbul cabaran atau muncul sisi kekurangan pada pilihan yang dipilih, tiada fikiran negatif muncul kerana yakin adanya hikmah dan kebaikan daripada Allah.
13. Istikharah terbuka kepada apa sahaja urusan kehidupan yang berada di dalam ruang lingkup
keharusan Syara’ dan salah jika hanya dilihat sebagai mekanisme jodoh.
14. Rujuklah kitab-kitab Fiqh serta panduan Sunnah dalam urusan Istikharah serta ibadah-ibadah yang lain.
15. Melakukan ibadah dengan hanya berpandukan hearsay adalah pintu kebinasaan dalam beragama.
Sebuah Mahar Cinta
www.iLuvislam.com
tuan mohd rezza
editor : everjihad
www.iLuvislam.com
tuan mohd rezza
editor : everjihad
Nabi saw bersabda;
“Dinikahi wanita itu kerana empat perkara . Kerana kekayaannya, kerana kedudukannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka pilihlah kerana agamanya, nescaya akan beruntunglah kedua-dua tanganmu”
(Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)
Persediaan Melayarkan Sebuah Bahtera Kasih
Orang bujang yang yang masih rasa malu-malu atau lucu apabila memperkatakan tentang hal ehwal perkahwinan, ia adalah salah satu tanda yang dirinya belum sampai masa untuk berkahwin.
Bersedialah dari sekarang, kematangan anda dinilai, sebelum sebuah bahtera perkahwinan bersedia dilayarkan. Penulis berpandangan isteri beragama yang dimaksudkan Rasulullah saw tidak semestinya diukur dari sudut jurusan ilmu atau bidang pengajian semasa di universiti, tetapi akhlaknya dan sejauh mana amalannya terhadap ilmu-ilmu syariat yang dipelajarinya walaupun sedikit.
Lebih penting hikmah yang diperolehinya setelah amalan dilakukan dengan ikhlas. Disiplin akademik di universiti tidak penting. Mungkin seseorang itu dari bidang sains tetapi luas pembacaannya tentang lapangan ad Din, dan mempelajarinya melalui saluran tepat secara formal atau tidak seperti menghadiri kuliah di masjid, menonton program televisyen berbentuk perbincangan agama, dan sebagainya.
Kita perlu pada anjakan paradigma, sepertimana ditonjolkan oleh baginda saw sebagai seorang suami, terutama dalam menilai sifat agama pada perempuan yang hendak dicari sebagai isteri. Menilai terlebih dahulu dari sudut hati atau batiniah sebelum lahiriah.
Ujian selepas berkahwin
Penulis merasakan ramai sekali isteri yang meminta perhatian dari suami sehinggakan suami terasa rimas dengan sikap ini. Untuk kehidupan rumahtangga yang seimbang, sangat penting dipihak isteri belajar memahami suami dengan meletak diri ditempat suami.
Jika setiap insan menghargai keunikan diri masing-masing, mengiktiraf kelebihan dan mengakui kelemahan, sebuah kehidupan akan menjadi seimbang. Oleh kerana perempuan kuat pada emosi, maka emosinya terpilih untuk hanya disuburkan oleh suami tercinta dan anak-anak.
Kepuasan pada mengisi keperluan emosi hanya boleh diperolehi dari insan yang diberikan emosi itu iaitu suami dan anak-anak. Tidak ada apa sangat yang hendak dicari di luar sana. Bila dah faham, maka tidak berlakulah isteri dan suami 'bermain kayu tiga', dan menjadi bahana adalah anak-anak.
Sebuah perkahwinan itu memerlukan perkongsian fizikal dan minda dalam erti kata yang sebenar-benarnya, interdependence- saling bergantung- Banyak pasangan suami isteri yang terkandas bila sampai pada bab ni. Perempuan kena belajar untuk mencintai dirinya sendiri, sebelum untuk mencintai suami dan anak-anaknya.
Persiapan ini perlu, sebagai persedian awal sebelum berumahtangga. Seorang perempuan memang dalam fatrah masa sepuluh tahun pertama perkahwinan, akan merasa seolah-olah tidak memerlukan kawan perempuan yang lain, sedangkan itulah support yang diperlukan terutama ketika emosi terlalu kuat melanda. Suami tidak dapat menampung kehendak emosi itu.
Cuba dekatkan diri dengan teman yang sudah berumahtangga, mungkin usia perkahwinan mereka lebih tua, untuk berkongsi itu, dan ini, sedikit sebanyak dapat mengawal emosi yang membuak-buak.
Merancang masa secara berkala
Pada zaman sekarang suami isteri bekerja sama ada sektor awam atau sektor swasta. Apabila ini berlaku iaitu suami isteri bekerja, penulis dapati isteri lebih penat daripada suami, kerana selepas balik kerja mereka terpaksa menguruskan rumahtangga.
Kalau ada anak-anak yang masih kecil, penat mereka lagi bertambah. Tiada akses masa yang terancang, untuk diri dan keluarga. Penulis berpendapat sebahagian besar masa dan sudah tentu tenaga telah diragut untuk negara.
Bekerja sampai overtime, lupa untuk menyediakan keperluan untuk isteri, suami, dan anak-anak, terutama kasih sayang. Akibatnya tenaga untuk keluarga, termasuklah pendidikan anak dan juga hubungan intimasi keluarga amat berkurangan dan lesu.
Kadangkala untuk konsisten membaca el Quran dan melakukan solat sunat juga terbengkalai begitu sahaja. Kitab-kitab yang berguna tidak mampu dibaca dan dihabiskan, malahan hampir tiada akses masa untuk memperolehinya.
Dunia Barat telah mengalami lima puluh tahun lebih awal keadaan pekerjaan yang membebankan akibat kurang akses kepada masa bersama keluarga. Akibatnya keruntuhan moral anak-anak menjadi-jadi.
Gejala sosial tidak sihat sudah menjadi lumrah hidup, gara-gara kurang perhatian dari seorang ibu dan bapa. Mereka telah berusaha memperbaiki sistem ‘rat race’ tersebut. Mereka telah belajar dari kesilapan. Pembahagian jumlah kerja dan bilangan tenaga kerja telah dibahagi lebih adil.
Kini mereka kembali menikmati masa bersama keluarga dan akses kepada masa rehat dan aktiviti membaca, bersukan atau seni untuk ‘recharged’ minda, fikiran dan perasaan mereka. Nampaknya sistem kita sudah terbalik dan cuba mengulangi kesilapan mereka.
Jika diperbetulkan hubungan intimasi ini, maka rintangan ini juga mudah diperbaiki dengan penuh bertenaga dan segar.
Bercinta Hingga Ke Syurga
Kadang kala penampilan sesorang itu nampak tip top, berkopiah, berjanggut sejemput, bertudung labuh, berpurdah dan lain-lain lagi, namun apabila golongan ini mula terjebak dalam masalah sosial tidak sihat, siapa yang tidak mahu bercinta dan dicintai, penulis melihat ada petanda yang kurang sedap pada hati masing-masing, ada masalah hati.
Memang mudah nak mengubah luaran, namun teramat susah nak mengikis karat jahiliah dalam hati. Jika terpaksa mengurung atau memenjarakan keinginan (nafsu) yang terlalu memuncak, cuba lakukan sedaya mungkin. Jika terpaksa melepaskan keseronokan yang sering melalaikan Iman, cuba buktikan tanpa banyak soal.
Biar merana dahulu sebelum merana kemudian. Bimbang kalau dah terkena 'bius cinta' nanti, habis satu badan terasa kebas, nak angkat satu jari pun terasa berat. Apabila terbius seseorang itu dengan cinta, segala tindakan seolah-olah seperti diri telah dipukau.
Tiba-tiba menjadi bodoh, tidak pernah mengerti halal haram, dan batas pergaulan. Lebih-lebih lagi si perempuan, makhluk yang banyak menggunakan emosi dan selalu inginkan perhatian. Mereka yang terkena 'bius cinta', secara terangan menolak apa sahaja nasihat yang ditujukan.
Ada juga manusia yang seolah mampu mendengar nasihat, diangguk-angguk apabila dinasihati. Berjanji cuba mengatasi ‘masalah cinta’ itu, tetapi dalam diam rupanya, menolak mentah-mentah. Biusannya sungguh kuat.
Jadilah mereka yang terkena penyakit angau. Makan tak kenyang, tidur tak lena, dan mandi tak basah, kerana setiap detik dan masa fikiran telah tertumpah pada keayuan wajah si 'cewek', yang dikatakan solehah, dan cantik bak bidadari. Inilah dikatakan ['Pungguk Rindukan Bulan'].
Mulut melafazkan kata yang melegakan hati si penasihat, tetapi mindanya, dan hatinya tetap sama. Maka tindakannya, menjadi kaku terpana dalam alam khayalan. Kadang-kadang makan minum pun tidak dihiraukan. Deraian air mata ibu tidak dipeduli.
Sebaliknya deraian air mata si anak yang tidak dibenarkan berjumpa si 'kekasih hati' kononnya, itu pula yang mengundang simpati si ibu. Merintih si ibu keseorangan di tikar sejadah, memohon agar diberi petunjuk buat si anak. Bukannya si ibu tidak membenarkan si anak membuat pilihan, tetapi si anak langsung tidak mempedulikan nasihat si ibu akibat dibius cinta 'dos tinggi'. Cukup bahaya.
Pesan-Memesan
Maafkan aku wahai sahabat andai aku tidak menegur kalian. Hati aku membenci apa kalian lakukan, tapi aku hanya mampu menasihati dari jauh. Aku hanya mampu mengalirkn air mata menahan amarah apabila kau tidak mampu memahami kenapa aku diam membisu dalam membenci tindakan kalian walaupun sudah banyak kali menegur. Diam aku bukan kerana benci pada kalian, tetapi marah aku pada perbuatan kalian. Bukan kerana aku dengki, tapi kerana sebuah kasih sayang aku pada kalian.
Bermujahadahlah wahai sahabat pembaca budiman. Jagalah kesucian syariat agama kita. Biarlah diri dicemuh, mahupun disisihkan, asalkan hatimu, agamamu tetap terjaga menunggu masa yang dijanjikan Allah Taala. Ameen.
No comments:
Post a Comment