Monday, September 20, 2010

KEMANA PROFESI MAU DIBAWA?

Isa Alamsyah
Tambahan : Die

CERITA 1


Seorang wartawan menghentikan kendaraannya ketika melihat kerumunan. Sepertinya ada kemalangan. Karana begitu banyak orang mengerumuni , dia tidak bisa melihat keadaannya. Lalu muncul idea.
"Ke tepi, ke tepi, saya ayahnya yang korban!"
Langsung saja orang ramai membuka jalan, semua orang melihat pada dirinya.
Sang wartawan tersenyum dalam hati, ternyata strateginya berhasil.
Ia mampu menembus kerumunan dengan mudah. Wah saya memang wartawan penuh strategi, fikirnya bangga.
Ketika ia melihat korban, ternyata yang tergeletak adalah SEEKOR MONYET korban langgar lari.

CERITA 2


Seorang guru ditangkap karena melanggar lampu merah.
Ketika berada di pegadilan, ia menceritakan kenapa ia melanggar lampu merah.
Nampaknya hakim tidak begitu peduli dengan bagaimana kasusnya, ia justeru peduli dengan kerja sang pelanggar hukum.
"Apa profesion Anda?" Tanya sang hakim
"Saya Guru" jawab sang pelanggar lampu merah.
"Ha ha ha, sudah 20 tahun lebih saya jadi hakim, saya belum pernah menghakimi seorang guru. Saya sudah tunggu-tuinggu masa ini. Ayo sekarang Bapak Guru, silahkan tulis 'saya tidak akan melanggar lampu merah lagi' sebanyak 1000 kali, sebagai bentuk hukumannya" seru Sang Hakim bagga, puas kerana dendam masa lalunya terbayarkan.

CERITA 3


Seorang polis lalu lintas yang baru saja bertugas di hari pertama didampingi seorang senior untuk penilaian uji kelayakan tugas di lapangan.
Tiba-tiba di satu jalan ia melihat orang berkerumun.
Wah tentu saja ini merupakan pengalaman baru yang akan menyenangkan.
Ia juga ingin mendapat penilaian bagus dari senior pendampingnya atas keberaniannya.
Segera ia mendatangi kerumunan dan membubarkannya.
"Bubar-bubar, ada apa ini, saya polis!" katanya.
Semua langsung bubar ketakutan. Sang polis muda bangga karena berhasil menujukkan wibawanya. Tapi ternyata ia tidak melihat ada apa-apa.
Sang senior datang dan menepuk pundaknya
"Hebat ya kamu, baru pertama kali saya lihat ada polis yang membubarkan orang sedang menunggu bas!"

HUMOR dan Hikmah


Kisah di atas hanya serpihan dari berbagai kisah bagaimana sebuah profesion disalahgunakan.
Semua profesion  sebenarnya punya peranan, punya kekuatan, dan mampu digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

Wartawan punya kekuatan dengan beritanya, ia mampu mempengaruhi pandangan masyarakat. Jika ia gunakan untuk membawa masyarakat pada kebaikan, maka akan memberi kebaikan, tapi jika digunakan sebagai corong kekuasaaan maka akan melegitimasi kekuatan politik.


Demikian juga penulis, peguam, guru, dsb.

Hakim punya kekuatan untuk memperjuangkan keadilan. Seandainya semua hakim benar-benar memperjuangkan keadilan, maka makmurlah negeri ini.
Tapi ada juga hakim yang menggunakan kekuasaaannya untuk kepentingan pribadi. Seperti contoh di atas, ia gunakan untuk membalas masa lalunya yang pernah dihukum guru dan dia balas ke guru manapun.

Polis juga punya kekuatan untuk menegakkan keadilan. Jika semua polis menjalankan tugas dengan profesional, maka amanlah negeri ini dan semua hidup dengan nyaman.
Demikian juga dengan tentara, pemadam kebakaran, petugas keamanan, dsb.

Jadi semua pekerjaaan punya kekuatan, punya peranan untuk membangun sendi-sendi bangsa.
Tugas kita menjalankan tugas-masing masing secara profesional, bersinergi, untuk kemajuan bangsa.
Satu lagi, jangan gunakan sewenangnya yang di amanatkan untuk kepentingan pribadi.
Jika ada penyalahgunaaan, maka akan ada korbannya, masyarakat atau diri sendiri.

Apapun profesi Anda, berapapun Anda digaji, jika Anda sudah terima itu sebagai profesion, maka jalanilah dengan sepenuh Hati. No Excuse!



No comments: