Monday, October 18, 2010

TIME WILL HEAL, SURELY


 Salam sesetia mentari yang tetap muncul meski ayam merajuk untuk berkokok. Salam semesra kota ukhuwah yang menghubungkan hati atas nama nikmat Iman dan Islam. 
“I am only one, but still I am one. I cannot do everything, but still I can do something. And because I cannot do everything I will not refuse to do the something that I can do.”
Hellen Keller

Kiranya telah lama isi di sini ialah saduran kata orang lain, bukan aku tidak mempunyai idea sendiri, namun segalanya seakan tersekat oleh keadaan. No listing ok coz No Excuse in being applied here. Ok. Wireless sekan merajuk dan aku dihantui sakit yang dull tapi berterusan. Escapism ialah tidur. Sementelah magrib dan Isya’ awal, usai saja solat, aku silence kan henset dan terus rebah ke alam mimpi.
Kadang kala aku terganggu jua oleh vibrate yang memjadikan ‘ringing ear’, tapi aku buat tak peduli je. Owh, rasa tidak enak itu berterusan untuk 2 minggu tanpa henti. Kadang-kadang ia memunculkan diri waktu pagi dan aku terpaksa memujuk diri fokus pada kerja untuk melupakan sakit. Paling-paling aku telan PCM, tapi tahan paling lama 2 jam je.
Apakan daya. Kalau dia muncul lepas Isya’, senang je penyelesaiannya. Dan formula terbaik ialah fokus dengan benda lain-escapism macam dalam cerita House. Aku dulu kalau sakit kepala yang teramat (time aku tak kenal PCM), aku ikat kepala kuat-kuat macam pendekar gitu. Kain tu aku basahkan dan aku pun basah dalam tangisan di penjuru hati.
Hm..kira dekat 4 bulan kot sakit kepala tu tak datang, kiranya ia memberikan kesempatan untuk sakit lain singgah. Nasib la, kalau double pain, alahai, macam mana aku nak handle. Aku evolve (xd kaitan dengan teoro evolusi Darwin yang menipu ye) dari PCM kepada Ponstan dan Voltaren dan sudah lama nampaknya PCM diam dalam simpananku.
Kiranya dekat 2 minggu la malamku hangus dengan tidur dan siangnya kadang-kadang aku tidur jua demi melayan kehendak mata yang mendesak. Haha..skema nya ayat.
Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall.”
- Confucious
Sebenarnya ada banyak kerja yang tak setel. Jawab aku untuk seorang kawan : kerja aku macam sungai, alirannya tak pernah berhenti. Kalau kemarau pun, masih ada anak sungai mengalir, apatah lagi musim tengkujuh. Dan aku umpamakan keadaan sekarang seperti ‘puyan boh’ di Pantai Timur, meriah tapi menyeksakan.
Dan oh, kerja kita sebagai khalifah dengan Allah tak punya waktu untuk pencen macam pencen kerja dengan kerajaan. Jadi, kalau main sukan ingatlah Allah juga. Aurat tu jaga, jangan terpekik terlolong tak tentu hala (melencongkah aku?)
Hari tu UNGS present pasal DATING & COUPLING: IS IT ACCEPTABLE IN ISLAMIC VALUE?
KESIMPULAN : pinjam ayat seorang teman : kita semua tau hukumnya haram (crystal clear, right), so kita semua, ya kita semua dalam dewan ni yang tahu, kalau buat juga, jawab sendiri di hadapan Allah kelak.
ALTERNATIVE : bertunang dulu, baru berkenalan dan boleh keluar bersama, tapi bukan berdua sebab akan ada yang ke-3 iaitu Setan. Keluar bertiga dengan mahram...k.
Islam itu lifestyle. Jadi, jangan ambil yang mana sesuai dengan nafsu (eg kahwin lebih dari satu) tapi tinggalkan yang disuruh dan melakukakan apa yang ditegah.
SOALAN: apa nasihat kepada orang yang tak pakai tudung atau tak solat dengan alasan tak dapat hidayah?
 JAWAPAN : Hidayah takkan menyapa hati yang tak dibuka jendela (modified dr Faisal Tehrani) contoh : Rasul saw suruh ajar anak solat umur 6 tahun dan pukul kalau masih tak solat umur 10 tahun. Benda wajib kena paksa biarpun tak suka. Ada budak-budak solat sebab suka? Tapi disebabkan itu kewajipan, maka wajiblah dipaksa eg pakai tudung atau tutup aurat. Ok?
Reach high, for stars lie hidden in your soul. Dream deep, for every dream precedes the goal
Dan oh, sukarnya menahan air mata ini dari luruh. Peritnya menahan segala macam rasa. Tersepit antara pilihan mereka yang dihormati, pilihan apakah yang aku ada? Ibarat ditelan mati bapak, andai diluah maka ibulah sengsara, tidak mampu aku menjadi ‘decision maker’ yang mampu memuaskan semua pihak.
Sulitnya saat terpaksa mengambil keputusan yang mengundang sinis pandangan orang, sedang itulah yang mampu kulakukan setelah menimbang pro cons dalam sudut masa yang terhad, kejamkah aku mengguris hati satu pihak itu? Maafkan diriku yang tak terdaya memenuhi permintaan keduanya.
Failures do what is tension relieving, while winners do what is goal achieving.
Tegakah aku menahan segala macam pandangan yang menikam atas keputusan itu. Telah ku hitung, ternyata itu pilihan terbaik walau terpaksa melukakan hati banyak pihak. Time will heal it, aku percaya kata-kata ini. Ambillah masa, ambillah seberapa banyak waktu untuk melumpuhkan rasa tidak puas hati, ambillah selama mana pun untuk mengubat lara itu. Aku yakin itu keputusan terbaik walau tak mampu memuaskan semua pihak dan terpaksa menahan prejudis orang, oh Tuhan!
3 consecutive weeks without end. UNGS mengisi ruang yang sempit dan aku merajinkan diri mengikhlaskan niat belajar. Tidak mudah untuk melalui sedang proposal research belum bersentuh. Dan malamku menemui mimpi yang bercelaru.
Success is sweet: the sweeter if long delayed and attained through manifold struggles and defeats.
Life is not so easy, everything doesn’t flow smoothly according to our plans, but death is a lot more difficult. We’ll be going to a weird world that we just imagine before, no experience there. But, really, that so called weird world is the world that we’ll be eternal there. The day which has no lethargic or sorrow. That day is just for happiness forever in the heaven or but still if the ‘pahala’ is not sufficient enough we’ll being suffered in the hellfire. The choice is ours, either to prepare for entering the heaven or elsewhere.
The world is juat a bridge that connect between two places-temporary worldly life or permanent life after death. As I remembered what my late father said:
1.       Life is a dream, when you died, then the dream ends
2.       This world is not even worth more than a ‘sayap’ of a fly (how cheap this worldly life is)

Most of the shadows of this life are caused by our standing  in our own sunshine.

I learn so much from him that I hope my future partner will so much alike him. He make it compulsory for us to perform congregational prayer and recite verses that is very meaningful that I feel I ought to remember it by my heart also.  He did tazkirah daily after subuh congregational prayer that make me go to school a bit late. He did fardhu ‘ain at home that made me and all my sibling miss fardhu ‘ain at school. I was forced to remember hadith as early as 6 years old. I still remember how hard for me to learn Arabic when I was 6 together with my older sister and brother. I cried all the way when I try to learn those Qawaid.
But, the hard things that I underwent in the past made me strong as I am today. I was Arabic teacher for my classmate during SPM and I tought them without looking at textbook coz i really memorize by heart. I tought my classmate KHB, math & also other subject during PMR and chemist during SPM. I love to reminisce my old school days very much.
Still remember during flood season ,how challenging is for me to go to school. There was a river about 10m more or less that i’d to past to go to school. During this time, i’d to ‘meniti 2 batang pinang’. The height is about 7m more or less. Still wonder how I can do that? If i were to do it today, i dont’t think i’m able to.
We didn’t have tv. My father didn’t allow due to it’s content is more harmful than benefit. Instead, he bought us radio. This is the reason why I have ample of time to read old ‘jawi’ magazine such as Pengasuh (by Tok Kenali). For sure the first part that I’ll read is short stories. Then I started to ‘selongkar’ another magazines which all are collections of my late father that make me an avid reader today.
Still remember when I hate English very much during Standard 5 that I wrote in my ‘Buku Latihan’ : aku tak suka BI besar-besar (still remember the teacher is Madam Norsyam) after I read that if we have something, just say it, of course i won’t tell that to my parents. But after that, i found out that my interest towards English was growing very much till I got A during UPSR (teacher is Madam Adibah) .
During year 4 if i’m not mistaken, for Pendidikan Islam, Ustazah Noriah (sangat garang) will come to me to find out i was reading  novel during her class. Before ‘cubit’ me, i told her that i’d finished doing her work. So, no reason she got to angry with me. The reason that I did the work very fast was i want to finish up reading the novel especially after break when i borrowed books from library (the reason I was librarian during standard 2 till 6 together with Nor Eliza (where is she now?)
Some people may said : let go of the past, don’t dwell in it, but the past is important to shape me as I am today.

Resensi novel : DENYUT KASIHMEDIK                                                 
 Oleh : DR FARHAN HADI
Ni komen dari aku yang tak belajar sastera secara rasmi. Sekadar penulis cilik yang masih bertatih setelah lama membeku dalam hambatan akademik.
Novel pertama dari seorang doktor yang seakan memaparkan pengalaman seorang HO (Houseman Officer) yang berpindah dari satu jabatan ke jabatan yang lain-Orthopaedik, Obstetric & Gyne, Internal Medicine etc. Plotnya berjalan lurus dan tiada imbas balik. Watak utama seorang  doktor lelaki dan novel ini mengabungkan tiga fiqh-perubatan,wanita dan cinta.
Komen jujur aku:
Aku tak berapa setuju ulasan di kulit belakang oleh Fatimah Syarha. Meskipun mungkin dia tak terlibat membantu suaminya menulis, sepatutnya berilah peluang kepada orang lain mengulas kerana seorang isteri semestinya memuji hasil karya suami.

Aku puji nota kaki yang menerangkan istilah medical atau bahasa arab secara terus di setiap muka surat, bukannya menterjemah di muka akhir novel. Jadi, senang bagi laymen untuk faham medical term.

Aku tak suka kisah suami isteri berlebih-lebih mesra yang terpapar dalam novel ni. Ah, aku tak suka romen, suami isteri semua orang tau, tak perlu diwar-warkan dengan panggilan sayang, darling atau apa saja. It is understood coz it goes without saying ma. (aku skip baca bab tu, sebab bagi orang yang belum kahwin macam aku perkara itu agak mampu initiate gag reflex..aha) Aku suka cara suami isteri digambarkan dalam novel BIDADARI PADERI atau bagaimana hubungan pasangan bakal berkahwin dalam MOGA BONDA DISAYANG ALLAH

Ada sedikit persamaan antara suami isteri Dr Farhan dan Fatimah Syarha-iaitu laras bahasa yang agak kasar dalam menegur. Meski akhirnya yang ditegur berubah tingkah, namun seharusnya teguran dengan penuh hikmah dan pengajaran, bukannya dengan blaming.

Percubaan yang sangat-sangat bagus (aku tabik spring) dengan menyelitkan fakta-fakta yang relevan denagn situasi dalam setiap bab. Sungguh berjaya cara ini akui. 

Ending ialah typikal happy ending. Tapi aku perasan ujian tidak cukup kuat untuk watak utama selain daripada ujian sebagai colleague kepada Neezam dan Nazir, jua ujian seorang doktor yang aku sedia maklum kehidupannya yang tidak punya waktu senggang. Dan oh, aku terfikir perubahan hidup Dr Muslih yang lebih teratur setelah diijabkabulkan. 

Sarapan yang sekian lama tiada dalam jadual kembali menjadi perkara wajib kerana kewujudan permaisuri hati untuk menyediakannya. Aku membayangkan aku kalau berkahwin, apakah suami aku akan menyediakan sarapan untuk aku? Haha...imaginasi yang tiada kaitan dengan cerita. Sila abaikan. 
Overal, aku puji novel ni. Satu percubaan yang bagus dari seorang doktor muda yang berusaha sedaya menegakkan Islam sebagai cara hidup atas tiket professional seorang pengamal perubatan. Dan novel ini ialah integrasi antara sastera dan medikal yang cukup berjaya, aku kira. Tahniah buat Dr Farhan Hadi 
p/s : Ini pendapat aku, tak semesti betul dan mungkin silap. Tapi, aku sarankan budak medik baca buku ni..erm..agaknya bila RENTAK DENTAL bakal menembusi pasaran? 

No comments: